Siswa = Kalkulator??

Sebagian besar siswa di Indonesia menganggap matematika adalah mata pelajaran yang menakutkan, khususnya siswa-siswa di jenjang Sekolah Dasar. Hal ini terjadi karena selama proses pembelajaran, matematika hanya diperkenalkan sebagai mata pelajaran yang kaya akan rumus dan angka-angka. Siswa hanya ditanamkan pemikiran bahwa matematika adalah Soal, Rumus-Rumus dan Jawaban Pasti.

Ironisnya siswa hanya diposisikan seolah-olah sebagai KALKULATOR oleh sang guru. Sesuai fungsinya, kalkulator hanya dapat mengerjakan soal-soal dalam bentuk angka dengan proses perhitungan langsung.  Sehingga apabila siswa diberikan soal dalam bentuk :

1000 – 3000 – 4000 = . . . . .

Maka siswa tidak akan butuh waktu lama untuk menjawab soal tersebut, dan sebagian besar siswa akan memberikan jawaban yang benar.

Tetapi ketika siswa diberikan soal dalam bentuk cerita, seperti berikut:

Lela membeli 2 buah jeruk, satu jeruk harganya Rp1.500. Selain itu ia juga membeli 4 apel, masing-masing harganya Rp1.000. Lela membawa uang sebesar Rp10.000. Cukupkah uang lela untuk membayar buah belanjaannya? Adakah kembalian yang diterima Lela? Jika ada, berapa?

Siswa akan mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal tersebut, karena kembali ke fungsi siswa yang hanya sebagai kalkulator, kalkulator tidak pernah mengenal soal-soal dalam bentuk cerita untuk dikerjakan.

Padahal, soal kedua merupakan bentuk lain dari soal pertama, tetapi karena pemahaman siswa yang kurang terhadap soal cerita, maka siswa tidak dapat mengerjakannya. Siswa tidak terbiasa dengan bentuk soal cerita. Sehingga siswa mengalami kebingungan di saat harus mengubah soal cerita ke model matematika.

Hal inilah yang harus dibenahi. Metode mengajar guru yang hanya fokus pada rumus-rumus dan soal-soal rutin harus diubah. Salah satunya dengan membiasakan siswa dengan soal-soal Problem Solving atau Pemecahan Masalah.

Pemecahan Masalah adalah suatu proses mental dan intelektual dalam menemukan masalah dan memecahkan berdasarkan data dan informasi yang akurat, sehingga dapat diambil kesimpulan yang tepat dan cermat (Hamalik, 1994:151).

Dengan Pemecahan Masalah siswa digiring untuk mengerjakan soal-soal tidak rutin dan dengan cara atau penyelesaian mereka sendiri. Siswa tidak melulu menggunakan rumus-rumus baku yang diajarkan oleh guru, tapi siswa diberikan kesempatan untuk mengembangkan daya pikir mereka sendiri. Maka dengan pemecahan masalah siswa dilatih untuk berpikir kritis dan matematis.

(Hasil dari pertemuan pertama mata kuliah Problem Solving dengan DR. Yusuf Hartono)

Posted on October 22, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: